Bila bulan bukan untuk bintang
Bila mentari bukan untuk awan
Aku terima jika kau berkata
Semu segala yang kupinta
Dan aku gila
Sepertimu
Berkata air wajahku
Tentang bulan dan mentari, sendu
Meradang asa dalam diri
Kadang pergi
Tapi
Siapa yang tahu mengapa kita di sini
Meniti masing-masing hari
Mengapa meragu tentang bulan dan mentari
Jika kau mengerti tentang yang sejati
Jakarta, 17 Februari 2014
riskaar
17 February 2014
11 July 2013
Mengejar Waktu
Berhenti sejenak, menoleh ke belakang
Belum cukup jauh, ternyata
Walau samar masih terlihat
Waktu itu..
Ah, terlalu lamban langkahku
Terlalu berat
Mereka bilang jangan lupakan
Maka kurelakan
Kurasa cukup, lihat jalan belum menurun
Menggebu, kupercepat langkahku
Selaraskan ruang dan waktu
Jakarta, 11 Juli 2013
riskaar
Belum cukup jauh, ternyata
Walau samar masih terlihat
Waktu itu..
Ah, terlalu lamban langkahku
Terlalu berat
Mereka bilang jangan lupakan
Maka kurelakan
Kurasa cukup, lihat jalan belum menurun
Menggebu, kupercepat langkahku
Selaraskan ruang dan waktu
Jakarta, 11 Juli 2013
riskaar
12 July 2011
Abu
Ini bukan apa-apa hanya ketangguhan yang kalah
Takut, segan, malu yang tak mau mengalah
Ribuan angguk jantung kala mata memandang
Satu hamba-Mu yang tinggal hiasi angan
Mati jera walau begitu saja
Hanya punya takut dan segan yang tak mau mengalah
Sadarkah akan sepasang mata malu-malu?
Yang dari antah berantah selalu tau lagumu
Yang tertawa melihat tawamu
Yang sendu terbawa sedihmu
Memang bukan apa-apa hanya malu dan enggan
Aku memang bukan siapa-siapa hanya gambar diri yang kau lihat
Karena aku tahu
Pasti jua tiada arti ingin dan enggan
'Kan dicaci lalu menjadi abu
Dan tak akan kau namai itu kenangan
Jakarta, 12 Juli 2011
riskaar
19 April 2011
Penakluk Badai
Sisa sejuta detik
Dan ia kan hadir
Menyerngit dahi
Kita penakluk badai
Kemarin biliun detik
Marah pada peluh
Jangan keluar!
Halau jiwa yang salah
Nanti satu detik
Jangan lari!
Hadapi, jua semua kan berakhir
Ambillah lagi tersimpannya mentari
Jakarta, 19 April 2011
riskaar
Dan ia kan hadir
Menyerngit dahi
Kita penakluk badai
Kemarin biliun detik
Marah pada peluh
Jangan keluar!
Halau jiwa yang salah
Nanti satu detik
Jangan lari!
Hadapi, jua semua kan berakhir
Ambillah lagi tersimpannya mentari
Jakarta, 19 April 2011
riskaar
08 February 2011
Lagi
Setelah semuanya kembali lagi
Aku diterpa ombak lagi
Dikecam
Diancam oleh satu bibir tentang kematian
Tak terhitung detik
Merenung dan menghancur
Mendusta tentang penyesalan
Siapa? Entah hati atau aku
Yang merenung, menghancur
Yang berdusta tentang penyesalan
Aku buat semua mengerikan
Dan menjeruji semua kesedihan
Lalu mencemburui kenyataan
Dan menyesali penyesalan
Jakarta, 8 Februari 2011
riskaar
Aku diterpa ombak lagi
Dikecam
Diancam oleh satu bibir tentang kematian
Tak terhitung detik
Merenung dan menghancur
Mendusta tentang penyesalan
Siapa? Entah hati atau aku
Yang merenung, menghancur
Yang berdusta tentang penyesalan
Aku buat semua mengerikan
Dan menjeruji semua kesedihan
Lalu mencemburui kenyataan
Dan menyesali penyesalan
Jakarta, 8 Februari 2011
riskaar
27 November 2010
Seruan dalam Ruang
Seruan dalam ruang
Tak tentu sekarang artinya
Ketika dapat
Insannya dalam rengkulan semesta
Asas kira-mengira tak perjelas
Hatinya kini ada dimana
Dan aku,
Tiada kuasa menahan hujannya yang deras
Bukan di bawah mendungnya mega
Karena tak kenal semesta
Bermukim ia di padang rumput hijau
Semoga,
Tidak dahulu jua sekarang
Jakarta, 27 November 2010
riskaar
Tak tentu sekarang artinya
Ketika dapat
Insannya dalam rengkulan semesta
Asas kira-mengira tak perjelas
Hatinya kini ada dimana
Dan aku,
Tiada kuasa menahan hujannya yang deras
Bukan di bawah mendungnya mega
Karena tak kenal semesta
Bermukim ia di padang rumput hijau
Semoga,
Tidak dahulu jua sekarang
Jakarta, 27 November 2010
riskaar
Dihamba Manusia
Tegak antar lautan, samudera
Biasa, setara
Hambaan tidak bicara
Dikutip dari balik pintu, jeruji
Berseru, namun tak berani
Hamba umpat diri
Menyudut di ujung melodi yang lepas
Merasa, tak menumpas
Kau dan yang ganas
Direkat ujung dan ujung dan tak sia-sia
Ucap dan tak ter-iya
Kau dihamba manusia
Jakarta, 27 November 2010
riskaar
Biasa, setara
Hambaan tidak bicara
Dikutip dari balik pintu, jeruji
Berseru, namun tak berani
Hamba umpat diri
Menyudut di ujung melodi yang lepas
Merasa, tak menumpas
Kau dan yang ganas
Direkat ujung dan ujung dan tak sia-sia
Ucap dan tak ter-iya
Kau dihamba manusia
Jakarta, 27 November 2010
riskaar
Subscribe to:
Posts (Atom)